Coretan Ahmad

Belajar Pemilu dari Republik Prancis

TIMUR MEDIA – Pada 10 April lalu, warga Prancis menyelenggarakan pesta demokrasi untuk menentukan siapa yang akan memimpin mereka selama lima tahun ke depan nanti.

Dalam Pemilu putaran pertama itu, persaingan ketat terjadi antara politikus centrist Emmanuel Macron, politikus far left wing Jean-Luc Melenchon dan politikus far right wing Marine Le Pen. Macron berada di puncak dan unggul atas Le Pen, sementara Melenchon berada di peringkat ketiga dengan raihan cukup mengejutkan : 22% suara.

Hasil putaran pertama tersebut praktis akan mempertemukan Macron versus Le Pen pada putaran kedua pada 24 April nanti. Hal menarik dari peristiwa ini adalah bagaimana warga Prancis dan ketiga kubu tersebut menyikapi hasil putaran pertama. Baik kubu Macron, Le Pen maupun Melenchon menunjukkan sikap sportif selama kontes pertarungan politik tersebut. Para pendukung mereka pun legawa dan mengapresiasi raihan suara dari kandidat capres favorit mereka.

Bagaimana situasi tersebut bisa tercipta. Ini adalah pertanyaan pokoknya. Prancis merupakan salah satu negara dengan tradisi demokrasi tertua di dunia. Dengan pengalaman panjang demokrasinya, para politisi Prancis cukup matang untuk bertarung secara sportif dalam setiap kontes politik. Usai putaran pertama, kubu Melenchon dan para pendukungnya tidak mencari kambing hitam dari hasil perolehan suaranya yang berada di urutan ke tiga. Sebaliknya, mereka mengapresiasi raihan di atas 20 persen suara tersebut meski tidak bisa maju ke putaran selanjutnya.

Dengan perolehan 22 persen di putaran pertama, praktis suara pendukung Melenchon akan cukup menentukan hasil putaran kedua. Suara mereka akan diperebutkan oleh Macron dan Le Pen,  dua kandidat yang akan bertarung pada putaran ke dua nanti.

Macron yang berdasarkan sejumlah survei bakal unggul atas Le Pen, dalam kampanyenya di Marseille belum lama ini menyampaikan keseriusannya menjalankan program yang berhaluan centrist. Di kota yang merupakan salah satu basis suara Melenchon pada putara pertama ini, Macron berusaha meraih simpatik masyarakat dengan berusaha mengharmonikan program-program centrist nya itu dengan program-program Jean Luc Melenchon dalam isu-isu tertentu terutama yang menyangkut sosial ekonomi. Posisi Macron sebagai centrist memang relatif lebih fleksibel ketimbang Le Pen yang seorang ektrim kanan.

Sementara itu, Melenchon sendiri tidak memaksakan arahan apapun kepada para pendukungnya pada putaran kedua nanti. Hal itu nampak dari kebijakannya untuk menggelar konsultasi internal di partai politiknya terkait dukungan untuk putaran ke dua nanti. Hasil konsultasi internal itu bahwa partai politiknya menyerahkan keputusan suara ke pada masing-masing individu. Meski demikian, hasil sejumlah survei menunjukkan bahwa suara pendukung Melenchon akan lebih besar ke arah Macron ke timbang ke arah Le Pen. Contohnya hasil survei IPSOS-Sopra-Steria pada Sabtu lalu yang menunjukkan dukungan suara untuk Macron sebesar 33 persen, sementara untuk Le Pen hanya 16 persen dan sisanya akan abstain.

Sementara itu, kubu Le Pen dalam kampanyenya tetap konsisten dengan program-programnya yang populis-nasionalis, tipikal politikus ekstrem kanan. Tidak begitu nampak upaya dia untuk menyelaraskan program politiknya dengan program-program politik Melenchon. Memang secara teoritis relatif agak sulit mengharmoniskan program politik ekstrem kanan dengan program politik ekstrem kiri karena itu dua kubu yang saling berseberangan.

Lalu, jika kita lihat bagaimana respon warga Prancis, baik itu secara langsung di lapangan maupun di dunia maya, mereka menunjukkan sikap dewasa dan kematangan intelektual mereka mengahadapi putaran kedua nanti. Tidak banyak ujaran kebencian di antara mereka, tidak banyak perang fake news, hoax apalagi kerusuhan. Pesta demokrasi berjalan relatif sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan. Warga Prancis umumnya percaya bahwa pelaksanaan Pemilu berjalan secara fair dan profesional, dan mereka yakin bahwa siapa pun yang akan memenangkan Pemilu ini merupakan pilihan warga Prancis yang patut diapresiasi.

Bisa dibayangkan, jika keadaan di atas terjadi di negara-negara dunia ketiga. Mungkin yang akan terjadi adalah kubu centrist maupun far left wing akan saling menyerang lawan politik mereka dengan menggelar perang fake news, hoax dan sebagainya demi mendapatkan suara dari para pendukung far left wing dan memenangkan putaran kedua.

Dengan kata lain, masyarakat bisa dijadikan ‘’korban politik’’ demi kepentingan politik mereka. Itu semua karena tingkat kedewasaan dan kematangan intelektual dalam ranah politik di negara-negara dunia ketiga relatif masih kurang, diperparah oleh sistem perpolitikan yang relatif memberikan kesempatan kepada para aktor utama politik bersikap kurang fair termasuk dalam urusan Pemilu, sehingga masyarakat meragukan tingkat fairness dan profesionalism dari pelaksanaan Pemilu tersebut.

(Ahmad Mulyadi)

Selengkapnya...
Back to top button