Pariwisata

Banten Lama, Dulu dan Sekarang

By Ahmad Mulyadi

Banten Lama. Begitulah sebutan yang sering disematkan pada wilayah yang dulunya merupakan Pusat Pemerintahan Kesultanan Islam Banten. Wilayah ini berada di Kecamatan Kasemen, Serang, Provinsi Banten, sekitar 10 km dari alun-alun Kota Serang.

Di era Kesultanan Islam Banten, wilayah ini merupakan salah satu wilayah paling ramai, sibuk dan tersohor, bahkan hingga ke luar Nusantara. Dengan lokasinya yang strategis di Selat Sunda, wilayah ini tak hanya menjadi pusat pemerintahan, tapi juga salah satu pusat perdagangan utama di Nusantara. Para saudagar yang datang ke Banten Lama ini berasal dari berbagai negeri, seperti dari Tiongkok, Belanda, Denmark, Inggris, Spanyol, Portugal, Imperium Utsmaniyah (saaat itu hampir seluruh negeri Arab, Timur Tengah dan Afrika Utara berada di bawah kekuasaan Utsmaniyah yang berpusat di Istanbul), Persia (sekarang bernama Iran), India (saat itu bernama Kesultanan Islam Mughal yang wilayahnya mencakup Pakistan, India dan Bangladesh), serta negara-negara tetangga di Asia Tenggara.

Dengan status gandanya sebagai pusat pemerintahan Banten dan salah satu pusat perdagangan internasional tersebut, Banten Lama di era dulu praktis menjadi lokasi interaksi sejumlah budaya, peradaban dari berbagai belahan dunia. Peradaban Banten pun secara tak langsung diuntungkan oleh interaksi dari berbagai penjuru dunia tersebut.

Sekilas Banten di Masa Lalu

Menurut pakar sejarah ternama asal Prancis, Claude Guillot, peradaban Banten di masa lalu mendapatkan pengaruh dari bangsa-bangsa asing seperti Bangsa Arab, Bangsa Tiongkok, Bangsa India dan Bangsa Eropa. Bangsa-bangsa asing itu memberikan kontribusi di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan budaya terhadap masyarakat Banten pada saat itu. Sehingga tidak heran jika masyarakat Banten waktu itu merupakan salah satu masyarakat yang relatif maju peradabannya di Nusantara.

Di bidang ilmu pengetahuan, kita dapat menyaksikan pengaruh tersebut di antaranya dalam ilmu-ilmu agama dan filsafat. Para pedagang dari negeri-negeri Arab berjasa menyumbang kemajuan di bidang ini. Pengaruh ini pun didapatkan melalui para ulama dan cendekiawan asal Banten yang kembali ke Banten usai menuntut ilmu di negeri-negeri Arab.

Di bidang teknologi, kontribusi Bangsa Eropa adalah yang paling menonjol. Sejumlah teknologi di bidang sipil, perkapalan dan persenjataan yang ada di Kesultanan Islam Banten saat itu cukup dipengaruhi Bangsa Eropa, terutama Belanda, Spanyol dan Portugal. Hal itu dapat kita saksikan di antaranya pada konstruksi Menara Banten Lama serta benteng-benteng (Benteng Speelwijk) dekat Istana Banten Lama.

Sementara di sektor seni dan budaya, Bangsa Tiongkok merupakan bangsa yang cukup berpengaruh terhadap Banten saat itu. Hal itu di antaranya terlihat pada arsitektur bangunan Mesjid Banten Lama yang terinspirasi oleh bentuk pagoda Tiongkok.

Kemudian, pengaruh Tiongkok pun dapat kita saksikan pada gastronomi yang berkembang di Banten saat itu, seperti tahu dan makanan-makanan tradisional lainnya. Selain itu, pengaruh Tiongkok dapat terlihat dari penggunaan baju koko yang merupakan hasil pengembangan dari baju tradisional Tiongkok. Lalu dalam kesenian daerah, pengaruh Tiongkok dapat dijumpai dalam sejumlah alat musik tradisional di Banten.

Tiga sektor di atas tentu hanya bagian kecil saja dari sejarah Banten Lama di masa lalu. Selain sektor-sektor tersebut di atas, sejarah Banten Lama pun tidak bisa dilepaskan dari kemajuan ekonomi dan kestabilan politiknya, terutama di masa dua sultan pertama Banten (Sultan Hasanuddin dan Sultan Maulana Yusuf) dan di era Sultan Tirtayasa.

Kemajuan ekonomi Banten tentu tidak bisa dilepaskan dari perannya sebagai pusat perdagangan dan tempat transit para pedagang/pelaut dari berbagai negara. Selain itu, kesuksesan Banten pun dipengaruhi oleh keberhasilan Banten dalam membangun sistem pertanian, perkebunan, peternakan serta penagkapan ikan laut yang relatif maju di zamannya.

Di bidang politik, kesuksesan Banten tidak lepas dari kestabilan sistem Kesultanan Islam di pulau jawa usai menaklukkan kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha. Meski pun, keadaan ini berubah signifikan setelah kedatangan para bangsa penjajah dari Eropa, terutama Belanda yang menerapkan politik dagang kapitalis dan politik devide et impera di wilayah Nusantara.

Banten Lama di Era Awal Kemerdekaan

Usai Indonesia mendapatkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Pemerintah Republik Indonesia mengintegrasikan wilayah Banten dengan wilayah Jawa Barat menjadi satu provinsi dengan sebutan Provinsi Jawa Barat. Kedua wilayah itu pun praktis secara politik maupun ekonomi menjadi terintegrasi dengan pusat pemerintahan berada di Kota Bandung.

Penggabungan dua wilayah ini memunculkan sedikit ketimpangan pembangunan. Pembangunan di wilayah yang berlokasi di daerah bekas Kesultanan Banten, seperti Pandeglang, Lebak dan Serang relatif tertinggal dibandingkan dengan pembangunan di wilayah Bandung dan sekitarnya ataupun dengan wilayah Jawa barat yang bertetangga dengan DKI Jakarta.

Ketimpangan pembangunan ini pun berdampak pada kondisi Banten Lama yang saat itu berlokasi di Kabupaten Serang (saat itu belum ada Kota Serang). Daerah yang tempo dulu begitu istimewa ini menjadi tempat yang terkesan kumuh dan tidak terkelola dengan baik. Meski para peziarah tetap berdatangan pada hari-hari besar Islam, namun kesan para pengunjung terhadap Banten Lama kurang bagus : semrawut, kotor, berantakan, dsb.

Banten Lama di Masa Awal Provinsi Banten

Usai Banten memisahkan diri dari Jawa Barat, terdapat perubahan administrasi signifikan. Secara perlahan, pembangunan di wilayah Banten pun mulai terlihat. Namun karena saat itu Banten masih dalam tahap awal pembangunan, pengelolaan sektor pariwisata dan budaya dirasa belum maksimal.

Saat itu, kondisi Banten Lama masih sedikit mirip dengan kondisinya di era Jawa Barat. Banten Lama hanya menjadi tempat orang berziarah karena alasan reliji dan tradisi semata. Para pendatang fokus untuk berziarah dan setelah itu langsung pulang ke daerah mereka masing-masing. Mereka umumnya tidak tertarik berlama-lama ataupun sekadar bersantai di Banten Lama. Hal itu disebabkan kondisi Banten Lama yang masih sedikit kumuh dan belum terkelola secara optimal.

Banten Lama Sekarang

Banten Lama mulai mengalami transformasi cukup signifikan terutama sejak kepemimpinan Gubernur Wahidin Halim. Wahidin Halim yang sebelumnya membawa Kota Tangerang menjadi salah satu kota paling maju di Indonesia paham betul apa yang harus dilakukan terhadap warisan budaya dan sejarah bernama Banten Lama itu. Di bawah kepemimpinannya, Banten Lama dia ubah menjadi tempat yang tak hanya untuk berziarah, namun juga tempat yang nyaman untuk berekreasi ataupun sekadar bersantai bersama keluarga.

Kini, siapapun yang datang ke Banten Lama akan mendapatkan kesan positif dan menyenangkan. Banten Lama kini terkelola dengan baik, bersih dan rapih. Infrastruktur bangunan-bangunan telah diperbaiki, bahkan ditambah dan diperindah dengan tanpa mengurangi nilai-nilai sejarahnya. Lalu sistem transportasi menuju Banten Lama pun kini jauh lebih layak.

Perkembangan positif ini tentu menjadi magnet baru bagi pariwisata Provinsi Banten. Sekarang, masyarakat Banten dapat dengan bangga menyebut nama Banten Lama sebagai tempat favorit mereka. Para wisatawan yang berasal dari luar Banten pun kini jumlahnya terus bertambah seiring dengan menyebarnya berita tentang keadaan Banten Lama belakangan ini. Hal ini tentu memberikan keuntungan tak hanya bagi sektor pariwisata, namun juga sektor-sektor lainnya seperti ekonomi dan pembangunan.

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button