Bencana Alam

Ancaman Letusan Merapi, Masyarakat Mengungsi

Report: Maya I Editor: Dwi

TIMUR MEDIA – Gunung Merapi kembali menunjukkan tanda-tanda bakal meletus. Masyarakat setempat terpaksa kembali mengungsi karena khawatir Gunung Merapi meletus setiap saat.

Sebelumnya, Gunung Merapi telah memperlihatkan tanda-tanda akan meletus sejak awal November 2020.  Masyarakat di zona berbahaya Gunung Merapi meletus beringsut mengungsi. Tapi sampai akhir 2020 Gunung Merapi tidak jadi meletus dan sebagian masyarakat yang mengungsi kembali ke rumahnya.

Kini masyarakat yang khawatir dengan ancaman Gunung Merapi meletus kembali ke tempat evakuasi. Antara lain di Balerante, Kemalang, Klaten, Jawa Tengah. Masyarakat kembali mengungsi lantaran adanya aktivitas Gunung Merapi yang mengalami peningkatan dalam dua hari terakhir.

Ancaman Gunung Merapi meletus kembali muncul setelah gunung di perbatasan Jawa Tengah-Daerah Istimewa Yogyakarta sempat mengeluarkan lava pijar.

“Sebagian pengungsi sempat pada pulang. Tapi saat ini sudah kembali turun lagi ke pengungsian karena aktivitas Merapi ada peningkatan,” ujar Kepala Desa Balerante, Sukono dikutip dari Kompas, Selasa 5 Desember 2021.

Ia mengatakan, jumlah warga yang mengungsi di tempat pengungsian sementara Balerante sebanyak 227 orang. Mereka didominasi kelompok rentan yang berasal dari empat dusun, yakni Dusun Ngipiksari, Dusun Sambungrejo, Dusun Sukorejo dan Dusun Gondang.

Menurutnya untuk hewan ternak milik pengungsi sementara masih berada di kandang komunal, yang tidak jauh dari lokasi tempat evakuasi sementara.

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi menyatakan deformasi atau perubahan bentuk permukaan tubuh Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta terus terjadi dan meningkat.

Perekayasa Ahli Madya BPPTKG Sri Sayuti di Magelang, mengatakan sesuai catatan pada Minggu (3/1) pukul 00.00 WIB deformasi Gunung Merapi yang terukur dari Pos Babadan rerata 21 sentimeter per hari. Kondisi ini mengalami peningkatan dari sebelumnya dari 11 sentimeter ke 17 sentimeter, kemudian 19 sentimeter dan kini 21 sentimeter.

“Deformasi yang terjadi ini salah satunya diindikasikan dengan guguran-guguran di seluruh hulu sungai, dari tebing-tebing kubah Merapi mulai dari lava 1956, 1948, 1998 dan lava 1992 itu semua arahnya ke barat sampai barat laut,” jelasnya, dikutip dari Antara.

Guguran-guguran dari Gunung Merapi ini mengisi hulu-hulu sungai di sektor barat dan barat laut mulai dari Kali Putih, Kali Lamat, Kali Senowo, Kali Trising dan Kali Apu. Jarak luncuran terjauh guguran itu mencapai 3 kilometer di Kali Lamat.

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button