Balikpapan

Aktivis Teluk Balikpapan Tolak Penggusuran Ruang Hidup Nelayan

TIMURMEDIA.COM – Aktivis lingkungan yang tergabung dalam Aliansi Nelayan Jenebora, Pantai Lango, Gersik, Pokja Pesisir dan Nelayan menolak rencana penggusuran ruang hidup nelayan di Kaltim.

Aktivis lingkungan, Husein, dalam rilis yang diterima redaksi, memaparkan pihaknya akan melakukan aksi menolak rencana penggusuran ruang hidup Nelayan dalam RZWP3 Kaltim. Penolakan itu akan ditindak lanjuti dengan seruan aksi yang dihelat, 15/7/2019 di Balikpapan.

Menurutnya rencana pemerintah mengambil alih dan menggusur ruang hidup warga di pesisir Teluk Balipapan tertuang dalam raperda RZWP3K atau Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau Pulau Kecil, Kalimantan Timur.

Ia menjelaskan, myarakat sipil Kalimantan Timur sudah berupaya agar ruang hidup di pesisir termasuk wilayah tangkap nelayan di Teluk Balikpapan tetap dipertahanan.

“Namun pengurus negara tetap memaksakan dan memberi karpet merah terhadap ruang DLKP dan Daerah Lingkungan kerja dan daerah Lingkungan kepentingan Pelabuhan serta nenghapus ruang tangkap nelayan Teluk Balikpapan,” sesalnya, 15/7/2019.

Rencana ini tidak hanya akan merusak bentang ekologi Teluk ini, tetapi juga akan mengancam keberlangsungan hidup bagi warga di tiga perkampungan nelayan di Kota Balikpapan yaitu, Kampung Baru, Somber, Kariangau dan delapan Kampung di PPU seperti Bulu Minung, Geresik, Jenebora Pantai Lango, Maridan Sepaku, Semoi dan Mentawir.

Ia menilai sekitar 3.000 warga dari dua kawasan ini akan terganggu dengan rencana  sebagai kawasan industri dan pelabuhan. Padahal sudah sejak lama warga nelayan tradisonal menggantungkan hidupnya sebagai sumber ekonomi utama bagi keluarga.

Mengacu pada fakta tersebut, sambungnya, rencana RZWP3K Kaltim ini akan mengganggu serta mengancam dan berakibat:

1. Sumber Makanan protein hewani seperti  Ikan, Kepiting, Udang, Tripang, Siput, tiram dan tudai yang menjadi andalan nelayan Teluk, terancam akan terggangu dengan limbah kegiatan industri dan pelabuhan. Hal ini akan berdampak serius bagi industri perikanan dari teluk Balikpapan yang selama ini disuplai ke kota Balikpapan dan Penajam Paser utara dan sekitarnya.

Hal ini dipengaruhi oleh Teluk Balikpapan yang memiliki karakteristik tertutup. Tidak ada sungai besar yang mengalir dari hulu dengan pola arus keluar ke perairan Selat Makassar yang hanya bergerak dari hulu ke hilir dan terus ikut pasang surut air laut.  Dengan demikian Sedimentasi tidak keluar dari Teluk Balikpapan. 

2. Sedimentasi akan mengancam bukan hanya produksi laut tetapi juga sistem perhubungan kapal. Begitu juga pembukan lahan hutan untuk industri di Das Teluk Balikpapan bisa menghasilkan 7 ton sedimentasi per hektare per tahun dan  sedangkan kegiatan reklamasi pantai dengan cara “cut and fill” menghasilkan tingkat erosi dan sedimentasi yang jauh lebih tinggi.

Teluk Balikpapan saat ini reaktif dangkal, sekitar 2-10 meter. Hanya bagian sempit dari dasar laut didekat pantai Kariangau cukup dalam, sampai 40 meter (telah dilakukan pengukuran pada tahun 1998-1999 oleh Coastal Resources Menegement Project Kalimantan Timur – CRMP).

Tetapi tingkat sedimentasi di daerah tersebut bisa mencapai 1-2 meter pertahun dan pada tahun 2009 kedalaman air di pesisir Teluk Balikpapan Teluk Waru yang hanya 22 meter yang sebelumnya kedalaman tersebut mencapai 30-40 meter!
 
3. 16% dari luasan Teluk Balikpapan ada dalam daerah pola terpapar ancaman bencana, dengan keterangan kemiringan lereng relatif curam sampai dengan sangat curam dengan kondisi tanah yang sangat rentan terhadap erosi, tingkat genangan tinggi.

Sedangkan untuk kawasan industri yang berada di tengah-tengah Teluk Balikpapan sendiri, 77% nya adalah daerah pola terpapar ancaman bencana.

4. Hilangnya Keanekaragaman Hayati seperti  hutan primer, hutan mangrove, padang lamun, dan terumbu karang. Daerah ini masih merupakan habitat Berungan Madu, Macan Dahan, Bekantan, Pesut, Dugong, Buaya Muara, dan Penyu Hijau.

Masih bisa di temukan lebih dari 100 jenis mamalia, sekitar 300 jenis burung, lebih dari 1000 jenis pohon. Populasi Bekantan, yaitu sekitar 1400 ekor, adalah salah satu di antara 6 populasi Bekantan yang tersebar dan merupakan sekitar 5% dari Bekantan di seluruh Pulau Kalimantan.

Populasi pesut pesisir sejumlah 60-80 ekor dan Duyung. Jumlah jenis Mangrove di Teluk Balikpapan mencapai 40 jenis, yaitu sekitar separoh dari semua jenis yang tercatat dari Benua Asia.

Sebagian dari hutan Mangrove di Teluk Balikpapan adalah hutan primer dengan pohon lebih dari 20 meter tinggi, yang langka ditemukan di kepulauan Borneo.

Ekosistem ini setidakya memainkan peran ekologis untuk daya dukung dan daya tampung lingkungan, layanan fungsi alam, perubahan iklim, penanggulangan bencana, ekosistem esensial, energi dan ekonomi berkelanjutan.

Jika pemerintah masih tetap melanjutkan perusakan dan perampasan ruang tangkap nelayan di dalam RZWP3K dan lebih mementigkan investasi dan pengusaha maka ancaman bencana ekologis, ekonomi dan sosial akan diterima oleh warga di dekat ekosistem Teluk Balikpapan.

Walaupun sebenarnya Mahkama Konsitusi No. 3 Tahun 2010, yang memandatkan sebagai berikut: 1) Masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil memiliki hak untuk melintas dan mengakses laut; 2) Masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil memiliki hak untuk mendapatkan perairan yang bersih dan sehat; 3) Masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil memiliki hak untuk mendapatkan manfaat dari sumberdaya kelautan dan perikanan; 4) Masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil memiliki hak untuk mempraktikkan adat istiadat dalam mengelola laut yang telah dilakukan secara turun temurun.

Demikian tidak ada kata lain, masyarakat Pesisir menyatakan Menolak Perda RZWP3K Kalimantan Timur  Untuk disahkan. Kembalikan kedaulatan dan pulihkan ekosistem Teluk Balikpapan sebagai Ruang hidup  dan raung  tangkap nelayan.

Penulis: Maya Astuti
Editor: Abi Kurniawan

Most Popular

To Top