Coretan Dokter Leli

Ada Doa Mereka

TIMUR MEDIA – Saat perjalanan pulang ke Jakarta kemarin, pesawat yang saya tumpangi gagal mendarat karena cuaca buruk. Memang sore itu, di Jakarta sedang diguyur hujan deras. Untuk itu pilot kami memutuskan berputar-putar dulu di udara sampai jarak pandang membaik.

Cukup lama juga kami ada dalam kondisi itu, walau lamanya tentu subjektif, akan berbeda tiap orang. Bagi orang yang pernah punya pengalaman buruk naik pesawat, maka 5 menit saja akan terasa lama dan mengerikan. Namun, buat anak kecil yang sedang exciting karena ini pengalaman pertamanya terbang, maka semakin lama berada di atas awan semakin menyenangkan buat mereka.

Saya ada di pertengahan.

Awalnya saya masih tenang, tapi semakin lama semakin mendebarkan buat saya. Lisan ini semakin sering bergumam agar hati menjadi lebih tenang. Pada percobaan selanjutnya akhirnya pilot kami berhasil mendaratkan pesawat dengan cukup baik. Alhamdulilah, tentu saja kami merasa lega sekali

Yang saya pikirkan kemudian: pasti ada doa diantara kami, para penumpang pada pesawat ini yang doanya dikabulkan Gusti Alloh, Aang Maha Penggenggam.

Terkait

Mungkin ini doa dari seorang ibu di kursi depan yang rajin bersedekah dengan ikhlas, atau doa seorang bapak yang senantiasa shalat berjamaah di masjid. Atau doa dari seorang kakek yang berbarengan dengan saya saat check in tadi, dan beliau selalu menjaga wudhunya.

Atau secara mengejutkan ternyata doa dari seorang balita yang ada di kursi belakang dan sedang belajar mengaji. Ia tengah belajar Iqra dengan terbata-bata. Membaca alif ba tsa penuh semangat, setiap hari.

Siapa yang tahu dari lisan mana doa kemudian dikabulkan?

Ini juga berlaku pada kehidupan kita sehari-hari. Kita tidak pernah tahu doa dari lisan siapa yang dikabulkan sehingga kita bisa seperti sekarang? Mungkin ini doa dari orangtua, guru kita, doa dari sahabat, doa dari seorang satpam yang selalu kita sapa dengan ramah tiap pagi.

Atau doa pasien yang pernah kita obati, atau sama mengejutkannya ternyata ini doa dari seseorang yang pernah kita tolong menyebrang jalan tempo hari. Yang kita sendiri sudah lupa pernah melakukannya..

Pasti ada doa dari mereka yang membuat kita bisa ada pada posisi ini.

Karena itu, berusahalah berbuat baik. setiap hari, setiap saat.

Sebisa mungkin. Seikhlas mungkin. Kemudian lanjutkan untuk detik berikutnya, untuk hari berikutnya. Apapun bentuknya, kapanpun saatnya.

Sampai suatu saat dimana kita sudah lelah berdoa, tidak tahu lagi mau berdoa apa. maka semoga saat itu doa mereka hadir untuk menolong kita.

Seharusnya…semestinya. (dr. Leli Hesti Indriyati, M.KK)

Selengkapnya...
Back to top button